Skip to content

Keperjakaan, Keperawanan dan Selaput Dara

November 3, 2009

Perjaka dan perawan secara harfiah diartikan pria dan wanita yang belum pernah bercinta sampai penetrasi. Namun ada juga yang menilai pria yang sudah pernah mengeluarkan cairan spermanya berarti tidak perjaka. Wanita yang selaput daranya sudah robek berarti tidak perawan lagi. Hal ini sering membawa bencana bagi pasangan muda yang kurang bijaksana dalam menyikapinya.

Virginitas sendiri bisa berarti positif, tapi bisa juga negatif untuk orang atau masyarakat tertentu. Di Barat, misalnya, pria atau wanita yang belum pernah bercinta setelah menginjak pubertas, akan merasa dirinya ‘tidak normal’.

Di kelompok masyarakat tertentu, pria dan wanita dituntut untuk menjaga virginitasnya sampai naik ke pelaminan. Namun kebanyakan yang dituntut untuk menjaga virginitasnya adalah pihak wanita, termasuk di Indonesia.

Bukti keperawanan biasanya ditunjukkan dengan adanya noda darah pada sprei setelah malam pertama. Bahkan di masyarakat tertentu, sprei bernoda harus digantungkan di jendela sebagai bukti untuk disaksikan seluruh masyarakat.

Masalahnya tidak semua wanita meneteskan darah pada malam pertama, walaupun ia masih perawan dalam arti belum pernah berhubungan seksual. Ada wanita yang tidak punya selaput dara sejak dilahirkan, ada yang kehilangan selaput dara tanpa disadarinya saat jatuh atau olahraga, dan ada pula yang selaput daranya begitu tipis sehingga saat sobek tidak mengeluarkan darah dan tidak sakit.

Selaput dara sendiri terletak di mulut vagina dan tidak menutup seluruhnya. Karena itu bentuk selaput dara jadi sangat bervariasi dari satu wanita ke wanita lainnya, tergantung bentuk lubangnya. Lubang yang dibutuhkan sebagai jalan keluarnya darah menstruasi.

Banyak pasangan muda yang mengira selama tidak ada penetrasi, pasti tidak hamil. Padahal sperma bisa jalan, bahkan berlari, memasuki lubang pada selaput dara. Jadi walau masih perawan, si wanita masih bisa hamil jika ada sperma di sekitar vaginanya. Selaput dara bukanlah alat pencegah kehamilan.

Selain bentuk, elastisitas selaput dara juga amat berbeda. Ada yang sangat tipis dan mudah sobek, ada yang amat tebal dan elastis sehingga tidak mudah sobek. Pada sejumlah wanita, selaput daranya ditemukan tetap utuh saat ia mau melahirkan anak pertamanya, sehingga dokter harus menyobeknya agar bayinya bisa keluar dengan mudah.

Masalah virginitas seringkali bermata dua dan lebih berpihak pada pria. Di satu sisi, pria ‘didorong’ untuk membuktikan keperkasaannya dan cenderung mendapat pujian saat kehilangan keperjakaannya.

Di sisi lain, wanita dituntut untuk menjaga keperawanannya dan cenderung dicemoohkan jika gagal mempertahankannya. Yang jadi pertanyaan, lalu kepada siapa si perjaka melepaskan virginitasnya…?

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: